Kamis, 17 Agustus 2017

Legislator NTB Minta Pemerintah Perhatikan Petani Garam

id KELANGKAAN HARGA GARAM
Kenaikan atau pun kelangkaan garam itu bukan akibat faktor cuaca, tapi karena yang membuat tidak pernah diperhatikan
Mataram (Antara NTB) - Anggota Komisi II DPRD Nusa Tenggara Barat TGH Hazmi Hamzar meminta pemerintah memperhatikan nasib para petani garam di tengah kelangkaan dan naiknya harga.

"Kenaikan atau pun kelangkaan garam itu bukan akibat faktor cuaca, tapi karena yang membuat tidak pernah diperhatikan," kata Hazmi Hamzar di Mataram.

Ia mengatakan, seandainya pemerintah sejak awal memperhatikan para petani garam, kemungkinan persoalan kelangkaan maupun kenaikan garam tidak mesti terjadi.

"Kita tahu selama ini, produk garam tidak menjadi komoditas andalan seperti yang lain, begitu ada kelangkaan dan lonjakan harga baru ramai-ramai kita ributkan, sedangkan pembinaan terhadap mereka tidak ada," ujar politisi dari PPP tersebut.

Menurutnya, sudah saatnya pemerintah baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota memperhatikan kondisi para petani garam.

"Jangan buat petani kecewa, karena ketika produksi banyak mereka tidak tahu harus menjual ke mana. Namun, ketika harga naik mereka baru dilihat. Ini tidak boleh lagi seperti itu," ucap Hazmi.

Saat ini di tengah melambungnya harga garam, seyogyanya SKPD di daerah merangkul petani, bagaimana meningkatkan produksi garamnya, sehingga ada kebanggaan petani garam terkait perhatian pemerintah.

Disinggung kebijakan impor garam, Hasmi Hamzar menegaskan hal tersebut sudah menjadi domain pemerintah unuk memutuskan. Daerah tidak bisa mengintervensi lebih jauh. Hanya saja yang bisa dilakukan daerah, bagaimana mendorong para petani garam untuk meningkatkan produksi tahun ini.

"Kalau pun impor sudah keputusan pemerintah, hendaknya kebijakan itu hanya satu kali, tidak secara terus menerus, sebab kalau kembali impor, petani akan bertambah kecewa, karena di saat diperintahkan meningkatkan produksi, impor masih dilakukan. Ini akan merugikan petani garam," kata Hazmi Hamzar. (*)

Editor: Nur Imansyah

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga